Karir Kutu Loncat

By | March 17, 2011
Advertisements
Share

Tak perlu minder jika pengalaman kerja di daftar riwayat pekerjaan Anda tak pernah tertulis dalam periode lama, alias menjadi “kutu loncat” yang sering berpindah tempat. Apalagi jika Anda punya alasan kuat setiap kali memutuskan berpindah tempat kerja. Perusahaan yang matang akan lebih jeli melihat potensi dan talenta dari si kutu loncat ini. Karena mereka tak hanya melihat catatan pengalaman kerja, namun melihat jauh lebih dalam pribadi Anda.

Mereka yang sering berganti pekerjaan, bukan semata karena bosan, adalah kalangan pekerja yang berani mencari peluang, mencoba kesempatan, dan mencoba menemukan jalur tepat untuk pekerjaan dan kariernya. Saat mereka menemukan tempat yang sesuai minat, talentanya pun akan berkembang lebih baik. Alhasil kontribusi terhadap perusahaan juga tinggi karena lebih produktif menghasilkan karya yang sesuai dengan passion-nya.

Tiga profesional berbagi pengalamannya mengenai karier dan pekerjaan dalam diskusi panel yang diadakan oleh Accenture (konsultan manajemen, layanan teknologi dan alih daya), di Jakarta beberapa waktu lalu. Tiga perempuan yang layak dijadikan role model anak muda ini menceritakan pengalaman mereka mengejar passion hingga kini berada dalam level karier tertinggi. Mereka kini justru punya peran menyeleksi calon pekerja yang punya talenta, termasuk si kutu loncat yang dinilai berbeda dari kacamata perempuan matang ini.

Felia Salim, Vice President Director BNI mengungkapkan, ia pernah salah mengambil keputusan dalam kariernya dengan berpindah kerja. Namun, meski tak sesuai dengan minatnya, ada ilmu dan pengalaman yang didapatnya dari sana. Saat kariernya menanjak, Felia membuat keputusan yang dianggap tidak rasional oleh ayahnya. Ia berhenti bekerja untuk mendedikasikan dirinya membangun yayasan sosial. Petualangan dan pengalaman yang didapat dari berkeliling Indonesia bersama yayasannya, justru semakin menambahkan kemampuan diri dan membuka kesempatan.

“Hanya dua tahun saja saya di yayasan, hingga akhirnya datang tawaran masuk bursa dan kesempatan lain terbuka,” kata Felia, yang kini menduduki kursi kepemimpinan di BNI.

Shinta Widjaja Kamdani, Managing Director penerus perusahaan keluarga Sintesa Group, punya kisah lain yang tak kalah menariknya. Shinta sudah menyadari bahwa suatu saat ia akan meneruskan perusahaan keluarga. Meski begitu Shinta perlu menunjukkan kepada keluarga potensi dirinya, bahwa ia sebagai perempuan juga bisa melanjutkan bisnis keluarga. Passion dan tanggungjawab punya peran seimbang untuk bisa mencapai sukses.

“Banyak kesuksesan datang dari positive thinking. Kadang kita harus melewati jalan tertentu untuk mencapai ke sisi lain. Kuncinya berpikir positif dengan menjalani passion dan menumbuhkan sikap tanggung jawab,” kata Shinta, yang melihat perjalanan hidup dan karier sebagai proses belajar.

Dengan pengalaman meniti karier di bisnis keluarganya, Shinta memiliki kemampuan kepemimpinan yang bijaksana. Ia tak mudah menilai seseorang hanya dari curriculum vitae di atas kertas saja. Kini, sebagai pemimpin di perusahaan, saat merekrut karyawan, ia melihat talenta jauh lebih dalam.

“Sulit menilai seseorang jika hanya lihat CV. Kadang wawancara satu jam tidak cukup untuk mengenal pribadi seseorang. Karenanya, meski di CV tertulis ia sering berpindah kerja, hal ini harus digali lagi mengapa terjadi. Bisa jadi ia memang masih mencari bidang yang sesuai dengannya, namun bukan berarti ia tidak stabil. Dalam merekrut karyawan biasanya yang saya cari adalah jiwa entrepreneurship-nya. Karena dengan memiliki jiwa kewirausahaan ini seseorang lebih kreatif, berpikir out of the box, dan memiliki leadership,” jelasnya.

Tara Hidayat, Deputi IV Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan berpendapat serupa, bahwa perilaku kepemimpinan lebih penting dilihat dari diri seseorang. Karena dengan memiliki leadership, individu lebih mampu berkontribusi terhadap perusahaan.

“Saat ini terjadi pergeseran dalam melihat CV seseorang. Meski sering berpindah-pindah kerja, misalnya setiap hampir tiga tahun pindah kerja, namun selama ia memiliki leadership, maka ia akan diminati perusahaan,” jelasnya.

Leadership, entrepreneurship, dan passion inilah yang harus dimiliki individu dalam meretas karier. Tak jadi soal jika label kutu loncat melekat, selama Anda bisa meyakinkan perusahaan bahwa ada potensi luar biasa di balik label yang terkesan negatif bagi kebanyakan orang itu.

“Kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang tepat pasti ada, hanya memang butuh timing. Prinsipnya mereka yang menjalani pekerjaan dengan passion akan mampu melihat peluang, dibandingkan yang bekerja hanya untuk uang. Passion membuat seseorang lebih mudah berkembang dalam pekerjaannya, bukan sekadar bekerja mengikuti apa yang diinstruksikan,” tandas Shinta. Ref : kompas

Share
Advertisements